Breaking News
light_mode
Beranda » Berita » Dari Antariksa ke Persoalan Bumi, Wahyudi Hasbi Dorong Generasi Muda Padukan AI dan Teknologi Satelit

Dari Antariksa ke Persoalan Bumi, Wahyudi Hasbi Dorong Generasi Muda Padukan AI dan Teknologi Satelit

  • account_circle Encut Nur Azizah
  • calendar_month Minggu, 4 Okt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Depokhitz.com, Bekasi – Dari atas sana, satelit mungkin hanya terlihat sebagai benda kecil yang mengorbit bumi. Namun dari teknologi itulah manusia bisa membaca perubahan lingkungan, memantau bencana, mengamati kapal hingga membantu memahami kondisi lahan yang sulit dijangkau secara langsung.

Gagasan tersebut mengemuka dalam keynote speech Dr. Wahyudi Hasbi, Chair IEEE Indonesia AES/GRSS Joint Chapter sekaligus Kepala Pusat Riset Teknologi Satelit Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Grand Finale YESIST12 2026 Indonesia di BSI Convention Center, Bekasi, Sabtu (3/10).

Dalam gelaran yang dihosting Universitas Nusa Mandiri (UNM) tersebut, Wahyudi mengajak generasi muda melihat teknologi antariksa bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai alat untuk menjawab persoalan di bumi.

Mengangkat tema Age of Innovation: From Space to Society – Earth Observation, AI, and the Next Generation of Innovation, Wahyudi menjelaskan bagaimana teknologi Earth Observation, satelit, penginderaan jauh, dan kecerdasan buatan (AI) mulai bertemu dalam satu ekosistem inovasi.

Satelit Membaca Hal yang Sulit Dilihat Mata
Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah remote sensing atau penginderaan jauh. Dengan memanfaatkan gelombang elektromagnetik, termasuk radar dan microwave, teknologi ini memungkinkan pengamatan berbagai fenomena alam yang tidak selalu dapat dilihat secara langsung dari permukaan bumi.

Menurut Wahyudi, kemampuan tersebut memiliki manfaat sosial yang cukup luas, terutama ketika teknologi digunakan untuk memahami perubahan lingkungan dan mengantisipasi potensi bencana.

“Satelit pengamat bumi dan sensor microwave memiliki keunggulan dalam menembus awan dan hujan. Hal ini memungkinkannya memantau struktur badai, memetakan kelembapan tanah, perubahan permukaan bumi (subsidence), hingga mendeteksi potensi bencana alam secara presisi,” ujar Wahyudi, Sabtu (3/10).

Data dari teknologi pengamatan bumi tersebut dapat digunakan untuk memantau siklus lingkungan dan kondisi atmosfer hingga menghasilkan informasi prediktif yang dapat mendukung respons terhadap berbagai fenomena alam.

Bagi negara seperti Indonesia yang memiliki wilayah geografis luas dan menghadapi beragam risiko bencana, kemampuan untuk memperoleh informasi dari jarak jauh menjadi bagian penting dalam pengelolaan data kebumian.

Perjalanan Satelit Indonesia Tidak Dimulai Hari Ini
Pemanfaatan teknologi antariksa di Indonesia juga bukan cerita yang baru dimulai. Wahyudi memaparkan sejumlah tonggak perkembangan satelit nasional yang menunjukkan bagaimana kemampuan tersebut dibangun secara bertahap.

Perjalanan itu antara lain dimulai melalui LAPAN-TUBSAT atau LAPAN-A1 pada 2007 sebagai satelit demonstrasi teknologi berbasis learning-by-doing. Kemudian hadir LAPAN-A2/ORARI pada 2015 dan LAPAN-A3/IPB pada 2016 yang mulai dimanfaatkan untuk kebutuhan seperti pemantauan kapal melalui Automatic Identification System (AIS), analisis pertanian, hingga komunikasi darurat.

Perkembangan berikutnya turut melibatkan lingkungan akademik melalui satelit mikro seperti SS-1 dan RIDU-Sat 1. RIDU-Sat 1, misalnya, diluncurkan pada 23 Juni 2025 menggunakan roket SpaceX Falcon 9.

Sementara itu, pengembangan generasi NEO-1 pada 2026 dan seterusnya diarahkan sebagai bagian dari keberlanjutan kapasitas pengamatan bumi nasional.

Menurut Wahyudi, berbagai teknologi tersebut telah memiliki rekam pemanfaatan dalam konteks kebencanaan, termasuk untuk memantau longsor Gunung Rinjani, erupsi Gunung Anak Krakatau, likuifaksi Palu, hingga kebakaran hutan.

Artinya, teknologi yang berada ratusan kilometer di atas permukaan bumi pada akhirnya kembali berbicara tentang persoalan yang terjadi di permukaan. Data dari antariksa baru memiliki arti ketika mampu membantu manusia memahami dan merespons apa yang terjadi di bumi.

Ketika Satelit Tidak Lagi Sekadar Mengirim Data
Persoalan berikutnya muncul ketika jumlah satelit dan volume data yang dihasilkan terus bertambah. Wahyudi menjelaskan, sistem pengolahan tradisional yang mengandalkan pengiriman seluruh data menuju stasiun bumi menghadapi tantangan berupa keterbatasan bandwidth dan waktu pemrosesan.

Di sinilah konsep Space Computing mulai memainkan peran. Alih-alih seluruh data dikirim terlebih dahulu ke bumi untuk diproses, sebagian pemrosesan dapat dilakukan langsung di dalam satelit menggunakan komputasi seperti FPGA, CPU, atau GPU.

Teknologi tersebut kemudian dapat dipadukan dengan algoritma AI dan Machine Learning. Satelit tidak hanya mengambil gambar atau mengumpulkan data, tetapi juga dapat melakukan analisis awal secara otomatis sebelum informasi dikirimkan ke bumi.

Salah satu contohnya adalah deteksi objek seperti kapal beserta jejak gelombangnya (vessel and wake detection). Dengan pemrosesan di antariksa, informasi yang dianggap relevan dapat diidentifikasi lebih cepat sehingga tidak seluruh data mentah harus dikirim ke stasiun bumi.

Perubahan ini menunjukkan bahwa masa depan teknologi satelit bukan semata soal siapa yang mampu mengirim perangkat ke orbit. Tantangannya juga bergeser pada bagaimana manusia mampu mengolah data dalam jumlah besar menjadi informasi yang bisa digunakan.

Inovasi dari Antariksa, Dampaknya Tetap di Bumi
Bagi generasi muda yang hadir dalam YESIST12 2026, Wahyudi melihat ruang inovasi tersebut masih terbuka lebar. Melalui IEEE Geoscience and Remote Sensing Society (GRSS), mahasiswa dan masyarakat ilmiah dapat terhubung dengan komunitas global, mengikuti program edukasi, kompetisi Grand Challenge, hingga mengakses ekosistem publikasi ilmiah.

Namun, teknologi tidak seharusnya berhenti sebagai demonstrasi kemampuan teknis. Tantangan berikutnya justru terletak pada kemampuan menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata di lapangan.

“Inovasi berikutnya bisa dimulai dari Anda. Hubungkan masalah nyata di lapangan dengan data, teknologi, dan ide kreatif Anda untuk menciptakan dampak sosial yang nyata, mulai dari respons bencana berbasis AI, pemantauan lingkungan, hingga smart agriculture dan solusi maritim,” pungkasnya.

Pesan itu membuat pembicaraan tentang antariksa terasa lebih dekat. Sebab, ujung dari teknologi yang dikembangkan di orbit bukan semata tentang seberapa tinggi manusia mampu menjangkau langit, tetapi seberapa jauh teknologi tersebut mampu membantu manusia memahami dan menyelesaikan persoalan di bumi.

  • Penulis: Encut Nur Azizah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IEEE YESIST12 2026 Dorong Generasi Muda Ubah Pengetahuan Menjadi Peluang

    IEEE YESIST12 2026 Dorong Generasi Muda Ubah Pengetahuan Menjadi Peluang

    • calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
    • account_circle Encut Nur Azizah
    • 0Komentar

    Depokhitz.com, Jakarta – Universitas Nusa Mandiri (UNM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan IEEE YESIST12 2026 di Jakarta, Indonesia, yang berlangsung pada 2–3 Oktober 2026. Ajang internasional tersebut mempertemukan generasi muda, inovator, akademisi, dan profesional dari berbagai negara dalam rangkaian kegiatan yang berfokus pada teknologi, inovasi, pengembangan kompetensi, serta kolaborasi lintas bidang. Salah satu rangkaian kegiatan dalam […]

  • Bangunan dan situs bersejarah di Depok

    11 Bangunan dan Situs Bersejarah di Depok yang Menyimpan Cerita Masa Lalu

    • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
    • account_circle Fahri S
    • 0Komentar

    Depokhitz – Masyarakat mengenal Kota Depok bukan hanya sebagai kota penyangga Jakarta yang memiliki kawasan permukiman, pusat perbelanjaan, dan berbagai kampus. Di balik perkembangan kotanya yang semakin modern, Depok masih menyimpan sejumlah bangunan dan situs bersejarah yang menceritakan perjalanan kota dari masa ke masa. Jejak sejarah ini tersebar di berbagai daerah di kota Depok dan […]

  • Kuliah Sambil Kerja, Reza Marwansyah Kini Berkarier di Dunia Teknologi dan AI

    Kuliah Sambil Kerja, Reza Marwansyah Kini Berkarier di Dunia Teknologi dan AI

    • calendar_month Selasa, 22 Sep 2026
    • account_circle Muhammad Guntur Ilham
    • 0Komentar

    Depokhitz.com, Depok — Kesuksesan tidak selalu datang dari perjalanan yang mudah. Bagi Reza Marwansyah, alumni Program Studi Informatika Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang lulus pada 2021, perjalanan menuju dunia profesional justru dimulai dari berbagai keterbatasan. Sebelum menjadi seorang profesional di bidang teknologi, Reza sudah terbiasa bekerja sejak lulus SMA pada 2007. Ia pernah bekerja sebagai […]

  • Belajar AI Tak Cukup Modal Copy-Paste

    Belajar AI Tak Cukup Modal Copy-Paste, UNM Bekali Mahasiswa Jadi Frontend Engineer Andal

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Depokhitz.com, Depok – Universitas Nusa Mandiri (UNM) sebagai Kampus Digital Bisnis kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri digital. Melalui Program Studi Sistem Informasi berpredikat Akreditasi Unggul, UNM sukses menggelar SI Web Development Camp: AI-Powered Frontend Engineering di Aula Universitas Nusa Mandiri Kampus Margonda, Jl Margonda Raya, […]

  • PLN Icon Plus Pamerkan Inovasi AI dan Energi Hijau di Electricity Connect

    Unjuk Inovasi Digital dan Hijau, PLN Icon Plus Ramaikan Electricity Connect 2026

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    Depokhitz.com, Tangerang – PT PLN Icon Plus berpartisipasi dalam ajang Electricity Connect 2026 yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, Tangerang. Pameran ini berlangsung selama tiga hari, mulai dari 22 hingga 24 September 2026. Dalam kesempatan ini, PLN Icon Plus memperkenalkan beragam inovasi digital dan energi hijau untuk kebutuhan masyarakat, bisnis, maupun industri. Pameran tersebut […]

  • a-closeup-of-popcorn-in

    7 Rekomendasi Bioskop Paling Nyaman di Depok dengan Kursi Terbaik (2026)

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle Feby R
    • 0Komentar

    Depokhitz.com – Menonton film di bioskop kini bukan sekadar hiburan biasa semata. Pengalaman sinema yang sesungguhnya sangat bergantung pada kenyamanan kursi dan kualitas fasilitas yang ada. Maka, memilih bioskop nyaman di Depok menjadi keputusan penting sebelum kamu memesan tiket film. Selain itu, Kota Depok kini memiliki banyak pilihan bioskop modern dengan standar kenyamanan yang tidak […]

expand_less