11 Bangunan dan Situs Bersejarah di Depok yang Menyimpan Cerita Masa Lalu
- account_circle Fahri S
- calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Sumber : magnific.com
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Depokhitz – Masyarakat mengenal Kota Depok bukan hanya sebagai kota penyangga Jakarta yang memiliki kawasan permukiman, pusat perbelanjaan, dan berbagai kampus. Di balik perkembangan kotanya yang semakin modern, Depok masih menyimpan sejumlah bangunan dan situs bersejarah yang menceritakan perjalanan kota dari masa ke masa.
Jejak sejarah ini tersebar di berbagai daerah di kota Depok dan memiliki kaitan erat dengan sejarah Cornelis Chastelein dan komunitas yang berkembang di masa kolonial. Sejumlah bangunan lama masih bertahan hingga sekarang, meskipun sebagian sudah mengalami perubahan fungsi
Berikut 11 bangunan dan situs bersejarah di Depok yang menarik untuk diketahui.
1. Jembatan Panus
Sebagai salah satu peninggalan sejarah yang paling dikenal di Depok. Jembatan ini berada di atas Sungai Ciliwung dan secara historis menjadi bagian dari jalur yang menghubungkan kawasan Depok dengan wilayah Bogor.
Sumber sejarah lokal menyebut Jembatan Panus dibangun pada 1917. Nama Panus sendiri berkaitan dengan Stevanus Leander, warga yang dahulu tinggal di sekitar jembatan tersebut. Jembatan ini juga menjadi salah satu peninggalan yang masih dapat ditemukan di kawasan Depok Lama.
Keberadaan Jembatan Panus menunjukkan bahwa perkembangan infrastruktur Depok sudah berlangsung sejak masa kolonial. Karena itu, jembatan ini bukan hanya berfungsi sebagai penghubung, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan perkembangan wilayah Depok.
2. Rumah Tua Pondok Cina
Rumah Tua Pondok Cina merupakan salah satu bangunan bersejarah yang berada di kawasan Pondok Cina, Beji. Bangunan ini turut menjadi bagian dari perkembangan kawasan yang kemudian masyarakat kenal dengan nama Pondok Cina.
Landhuis Pondok Cina diperkirakan berdiri sejak 1841. Pada masa kolonial, bangunan ini berkaitan dengan aktivitas perkebunan dan berfungsi sebagai tempat administrasi sekaligus tempat singgah.
Nama Pondok Cina sendiri kemudian melekat sebagai nama kawasan. Bangunan lama ini mengingatkan masyarakat bahwa kawasan yang kini dipenuhi kampus, pusat perbelanjaan, dan permukiman memiliki sejarah yang jauh lebih panjang.
3. SMPN 1 Depok
SMPN 1 Depok berada di Jalan Pemuda, kawasan Depok Lama. Pemerintah Kota Depok menetapkan bangunan sekolah ini sebagai salah satu cagar budaya untuk dilestarikan.
Pemerintah Hindia Belanda membangun gedung SMPN 1 Depok pada 1922. Gedung tersebut mulai digunakan untuk kegiatan pembelajaran pada 13 September 1951, kemudian masyarakat mengenalnya secara resmi sebagai SMPN 1 Depok sejak 25 Mei 1960.
Saat ini SMPN 1 Depok masih digunakan sebagai sekolah. Karena itu, masyarakat yang ingin melihat bangunannya tetap perlu memperhatikan aktivitas sekolah dan tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar.
4. GPIB Immanuel Depok
GPIB Immanuel merupakan salah satu bangunan paling penting dalam sejarah Depok Lama. Gereja yang berada di Jalan Pemuda ini memiliki sejarah yang sangat panjang dan berkaitan dengan komunitas awal Depok.
Pembangunan gereja tersebut berlangsung pada 1714, bertepatan dengan tahun meninggalnya Cornelis Chastelein. Sumber sejarah menyebut bahwa sebelum meninggal, Chastelein sempat meresmikan bangunan peribadatan tersebut. Gereja ini awalnya menggunakan nama Gereja Jemaat Masehi, kemudian berganti nama menjadi GPIB Immanuel.
Karena usianya yang sangat tua, GPIB Immanuel menjadi salah satu bangunan dan situs bersejarah yang penting untuk memahami sejarah perkembangan komunitas Depok pada masa awal.
5. Bekas Rumah Sakit Harapan Depok
Bekas Rumah Sakit Harapan di Jalan Pemuda memiliki sejarah yang cukup unik. Bangunan tersebut pada awalnya bukan rumah sakit, melainkan Kantoor van Het Gemeentebestuur van Depok, atau kantor pemerintahan Kotapraja Depok.
Pada perkembangan berikutnya, bangunan tersebut berubah fungsi menjadi balai pengobatan dan kemudian berkembang menjadi Rumah Sakit Harapan. Rumah sakit tersebut diresmikan pada 11 Juni 1967.
Perubahan fungsi tersebut membuat bangunan ini menarik dari sisi sejarah. Satu bangunan mengalami beberapa fase penggunaan, mulai dari kantor pemerintahan pada masa awal Depok hingga fasilitas kesehatan.
Sayangnya bangunan ini menjadi terbengkalai dan kosong semenjak rumah sakit resmi berhenti beroperasi sejak 29 Maret 2022.
6. Kantor Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC)
Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein atau YLCC menjadi salah satu bagian penting dari sejarah Depok Lama. Bangunan ini berkaitan erat dengan sejarah komunitas yang berkembang dari tanah milik Cornelis Chastelein.
Chastelein merupakan tuan tanah Belanda yang memiliki wilayah Depok pada awal abad ke-18. Ia kemudian mewariskan tanah tersebut kepada kelompok yang terdiri dari para pekerjanya. Perkembangan komunitas tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah terbentuknya masyarakat Depok.
YLCC resmi mulai berfungsi sebagai museum sejarah mini bernama Historische Studio pada 27 Juni 2026.
7. Rumah Cimanggis
Rumah Cimanggis atau Landhuis Cimanggis berada di wilayah Cisalak, Sukmajaya. Bangunan ini merupakan salah satu peninggalan kolonial yang berada di luar kawasan utama Depok Lama.
Gubernur Jenderal VOC Petrus Albertus van der Parra diperkirakan membangun rumah tersebut pada 1760 sebagai tempat tinggal untuk istrinya, Adriana Johanna Bake. Bangunan ini kemudian mengalami beberapa perubahan kepemilikan dan fungsi.
Setelah lama mengalami kondisi yang kurang terawat, Rumah Cimanggis mendapat perhatian untuk dilestarikan. Pemerintah Kota Depok kemudian menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya pada 2018, dengan nama Gedung Rumah Tinggi Cimanggis. Revitalisasi kemudian mulai dilakukan pada 2020.
Rumah Cimanggis menunjukkan upaya masyarakat dalam mempertahankan bangunan kolonial sebagai bagian dari sejarah Kota Depok.
8. Rumah Tinggal Presiden Depok
Rumah Tinggal Presiden Depok merupakan salah satu bangunan yang berkaitan dengan sejarah komunitas Depok Lama.
Masyarakat Depok menyebut pemimpin Gemeente Bestuur, yaitu pemerintahan lokal yang pernah mereka bentuk, dengan istilah “Presiden Depok”. Rumah tinggal tersebut menjadi bagian dari peninggalan sejarah pemerintahan lokal Depok.
Keberadaan rumah-rumah lama seperti ini memperlihatkan bahwa Depok pada masa lalu memiliki struktur pemerintahan dan kehidupan masyarakat yang berbeda dengan kondisi kota saat ini. Masyarakat masih dapat menemukan Rumah Tinggal Presiden Depok sebagai salah satu peninggalan sejarah di kawasan Depok Lama.
9. Stasiun Depok Lama
Stasiun Depok Lama menjadi bagian penting dari sejarah transportasi Depok. Kawasan sekitar stasiun juga termasuk dalam wilayah yang dikenal sebagai Depok Lama.
Keberadaan jalur kereta api memiliki peran besar terhadap perkembangan wilayah Depok karena menghubungkan Depok dengan kawasan lain di sekitar Batavia dan Bogor. Seiring berkembangnya kota, jalur kereta tersebut kemudian menjadi bagian penting dari mobilitas masyarakat Depok.
Saat ini stasiun tersebut masih digunakan untuk melayani perjalanan kereta komuter. Dengan demikian, Stasiun Depok Lama memiliki keunikan karena fungsi transportasinya masih bertahan di tengah perkembangan kota yang semakin modern.
10. Makam Keluarga dan Komunitas Depok Lama
Selain bangunan, kawasan Depok Lama juga memiliki sejumlah situs pemakaman yang berkaitan dengan sejarah masyarakat awal Depok.
Pemakaman Kamboja adalah salah satu yang tercatat dalam daftar cagar budaya yang dilestarikan Pemerintah Kota Depok. Data Pemkot juga mencatat sejumlah situs pemakaman lain dalam daftar cagar budaya, sehingga sejarah Depok tidak hanya tersimpan melalui bangunan, tetapi juga melalui situs makam.
Baca Juga : 5 Tokoh Bersejarah Depok yang Membentuk Identitas Kota Hingga Saat Ini
11. Sumur 7
Masyarakat mengenal Sumur 7 Mbah Raden Wujud Beji sebagai salah satu situs bersejarah yang berada di tengah kawasan permukiman Beji, Kota Depok. Situs ini terdiri dari tujuh sumur yang tersebar di beberapa titik di wilayah Kelurahan Beji. Keberadaannya menjadi bagian dari sejarah lokal dan cerita masyarakat mengenai perkembangan awal kawasan Beji. Penelitian mengenai cagar budaya Kota Depok mencatat Sumur Tujuh Beringin Kurung dan Keramat Raden Wujud Beji sebagai situs cagar budaya.
Cerita yang paling dikenal masyarakat berkisah tentang kemunculan tujuh mata air tersebut. Masyarakat setempat mengisahkan bahwa pada masa ketika wilayah Beji masih banyak berupa persawahan, terjadi kekeringan yang mengganggu kehidupan warga. Mbah Raden Wujud Beji kemudian dipercaya berdoa memohon sumber air untuk membantu masyarakat. Dalam cerita tersebut, tujuh mata air kemudian muncul dan menjadi sumur yang tersebar di wilayah Beji.
Ketujuh sumur tersebut tidak berada dalam satu lokasi. Sumur pertama berada di Jalan Kopo, sedangkan masyarakat menemukan sumur kedua di belakang Masjid Hidayatullah dan sumur ketiga di Jalan Pulo Jaya. Sumur keempat berada di sekitar TPU Keramat Beji, sementara sumur kelima, keenam, dan ketujuh berada di dalam kompleks Masjid Nurussalam.
Kesimpulan
Bagi masyarakat Depok, keberadaan bangunan dan situs bersejarah ini dapat menjadi pengingat bahwa perkembangan kota tidak terjadi dalam waktu singkat. Setiap bangunan dan situs menyimpan cerita yang ikut membentuk identitas Depok hingga seperti sekarang.
- Penulis: Fahri S

Saat ini belum ada komentar