Mengenal Asal-usul Kota Depok, Jejak Cornelis Chastelein dan Lahirnya Gemeente Depok
- account_circle Ilman Syafaat
- calendar_month 23 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Depokhitz.com, Depok – Tak banyak yang mengetahui bahwa jauh sebelum menjadi kota penyangga Jakarta, Depok pernah merupakan tanah partikelir milik seorang pejabat VOC Cornelis Chastelein. Dari kawasan perkebunan pada akhir abad ke-17, Depok kemudian berkembang hingga menjadi salah satu kota terbesar di Jawa Barat saat ini.
Berdasarkan catatan sejarah Pemerintah Kota Depok, kawasan Depok mulai dikenal setelah seorang pejabat VOC bernama Cornelis Chastelein membeli sebidang tanah seluas sekitar 1.244 hektare pada 18 Mei 1696. Tanah tersebut dibeli dari sejumlah pemilik tanah lokal dan kemudian dikembangkan menjadi kawasan perkebunan, pertanian, serta permukiman.
Berbeda dengan kebanyakan pejabat VOC pada masa itu, Chastelein dikenal memiliki pandangan yang cukup berbeda terhadap pekerjanya. Dalam surat wasiat yang dibuat sebelum wafat pada 1714, ia membebaskan para budak yang bekerja di tanah miliknya dan mewariskan kawasan Depok kepada 12 keluarga yang telah dimerdekakan.
Kedua belas keluarga tersebut kemudian menjadi cikal bakal masyarakat Depok lama. Mereka berasal dari berbagai latar belakang etnis, seperti Bali, Sulawesi, Ambon, hingga wilayah Nusantara lainnya. Hingga kini, beberapa nama keluarga seperti Bacas, Isakh, Jacob, Jonathans, Joseph, Laurens, Leander,Loen, Samuel, Soedira, Tholense, dan Zadokh masih dikenal sebagai bagian dari sejarah awal Depok.
Asal-usul Nama Depok
Hingga saat ini, asal-usul nama “Depok” masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Salah satu pendapat menyebut nama tersebut berasal dari kata padepokan dalam bahasa Sunda yang berarti tempat pertapaan atau tempat seseorang mendalami ilmu agama maupun spiritual. Pendapat ini muncul karena pada masa lampau kawasan Depok masih berupa hutan yang relatif sepi.
Sementara itu pendapat lain menyebutkan Depok berasal dari singkatan De Eerste Protestansche Organisatie van Christenen (DEPOC) yang berarti “Organisasi Kristen Protestan Pertama”. Istilah tersebut dikaitkan dengan komunitas yang berkembang di tanah warisan Cornelis Chastelein. Meski demikian, belum ada bukti sejarah yang pasti menetapkan teori mana yang paling benar, sehingga keduanya masih menjadi bagian dari kajian sejarah Depok.
Pernah Memiliki Pemerintahan Sendi
Seiring berjalannya waktu, kawasan Depok berkembang menjadi permukiman yang sangat maju. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Depok bahkan memperoleh status sebagai wilayah dengan pemerintahan sendiri (Gemeente Depok) yang mengatur berbagai urusan masyarakat setempat.
Setelah Indonesia merdeka, status pemerintahan tersebut berakhir dan Depok menjadi bagian dari Kabupaten Bogor. Wilayah ini kemudian berkembang menjadi Kecamatan Depok yang berada di Kawedanan Parung.
Perkembangan jumlah penduduk yang pesat membuat pemerintah membentuk Kota Administratif Depok melalui Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1981. Kota administratif tersebut diresmikan pada 18 Maret 1982.
Perjalanan Depok berlanjut hingga akhirnya resmi menjadi daerah otonom berdasarkan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1999 tentang pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan Kotamadya Daerah Tingkat II Cilegon. Sejak saat itu, Depok memiliki pemerintahan sendiri dan terus berkembang menjadi salah satu kota penting di wilayah Jawa Barat.
Kini, Kota Depok terdiri atas 11 kecamatan dan 63 kelurahan serta dikenal sebagai kota pendidikan, permukiman, dan pusat aktivitas masyarakat yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta. Meski telah berkembang menjadi kota metropolitan, berbagai peninggalan sejarah seperti kawasan Depok Lama, Gereja Immanuel, hingga jejak komunitas Cornelis Chastelein masih menjadi bagian penting dari identitas Kota Depok.
- Penulis: Ilman Syafaat

Saat ini belum ada komentar