Dari Pemulung Menjadi Dosen, Kisah Perjuangan Nasikhin Raih Gelar Doktor di UIN Walisongo
- account_circle Muhammad Guntur Ilham
- calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

sumber foto: detik.com
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Depokhitz.com Semarang – Perjuangan panjang mengantarkan Nasikhin, seorang mantan pemulung, meraih gelar Doktor Studi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang. Pria yang kini mengabdi sebagai Dosen Luar Biasa (DLB) di kampus tersebut dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dan IPK 3,89 dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor yang digelar di Kampus I UIN Walisongo Semarang, Selasa (9/6/2026).
Di balik keberhasilannya berdiri di mimbar akademik, tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Pada periode 2012 hingga 2017, Nasikhin membantu ibunya mencari barang bekas dengan menyusuri jalanan pedesaan untuk menopang perekonomian keluarga. Dalam kondisi serba terbatas, sang ibu kerap membeli buku bekas kiloan seharga Rp1.000 atau menerima buku dari warga untuk kemudian dijual kembali kepada pengepul. Sebelum dijual, buku-buku tersebut selalu dibaca oleh Nasikhin hingga menumbuhkan kecintaannya terhadap dunia pendidikan.
Keterbatasan ekonomi tidak menghentikan langkahnya untuk menempuh pendidikan tinggi. Ia berhasil memperoleh Beasiswa Bidikmisi saat menempuh pendidikan sarjana di UIN Walisongo Semarang. Setelah lulus, ia melanjutkan studi magister melalui Beasiswa Lulusan Sarjana Terbaik UIN Walisongo dan kemudian menempuh program doktor dengan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) dari Kementerian Agama.
Ketua Sidang Promosi Doktor, Prof. Musahadi, secara resmi mengumumkan kelulusan Nasikhin di hadapan para penguji dan tamu undangan. “Saudara Nasikhin dinyatakan lulus dengan IPK 3,89. Dengan ini, dinyatakan bahwa saudara Nasikhin adalah Doktor ke-409 yang diluluskan oleh UIN Walisongo Semarang,” ujarnya, mengutip dari detik.com.
Kesuksesan Nasikhin tidak hanya ditandai dengan gelar doktor. Sejak tahun 2022, ia telah menghasilkan 131 publikasi ilmiah dan menjalin kolaborasi penelitian dengan akademisi dari berbagai negara, seperti Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam. Sejumlah karyanya juga telah terindeks dalam jurnal internasional bereputasi Scopus.
Dalam sidang promosi doktor tersebut, Nasikhin mempertahankan disertasi berjudul “Literasi Artificial Intelligence dan Implikasinya dalam Pengembangan Keterampilan Abad 21 (Studi Kasus pada Mahasiswa Pendidikan Agama Islam di UIN Walisongo Semarang dan UII Yogyakarta)”. Penelitian itu menyoroti pentingnya literasi kecerdasan buatan bagi mahasiswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan tetap berlandaskan nilai-nilai etika serta keagamaan.
Kisah Bpk.Nasikhin menarik perhatian civitas akademika karena perjalanan hidupnya yang berawal dari membantu ibunya mengumpulkan barang bekas hingga meraih gelar doktor
- Penulis: Muhammad Guntur Ilham

Saat ini belum ada komentar